Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas. Vengeance is mine, all others pay cash.

Tahun 80an dan rokok yang tiada hentinya.


Akhirnya saya bisa menyaksikan film karya Edwin ini di layar lebar setelah melanglang buana menghadiri festival film ternama di luar negeri. Film pemenang Golden Leopard pada Locarno Film Festival ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama karya Eka Kurniawan.

Film ini bercerita tentang perjalanan Ajo Kawir, seorang laki-laki yang memiliki penyakit disfungsi ereksi karena sebuah trauma pada masa kecil, yang diharuskan menghadapi masalah dendam, romansa, dan pengakuan diri.

Saya selalu ragu dengan film Indonesia yang mengambil latar waktu jauh dari masa sekarang, namun di film ini saya merasa seluruh setting, lagu, wardrobe, dan dari aktivitas para karakter sangat menggambarkan tahun 80an. Suasana film ini yang pekat dengan maskulinitas sudah dibangun dari awal film, seakan akan film ini penuh dengan aktivitas dunia lelaki. Mulai dari scene balapan, berkelahi di tempat billiard, dan nafsu Ajo Kawir akan pertarungan hingga ia menghampiri Lebe. Film ini mengangkat isu toxic masculinity, dan saya rasa latar waktu film ini pun mendukung isu tersebut. dalam tulisan karya Argyo Demartoto yang berjudul “Konsep Maskulinitas Dari Jaman Ke Jaman Dan Citranya Dalam Media”, ia memetakan sifat maskulinitas menjadi 8, dan salah satunya adalah Give em Hell, yang artinya laki-laki musti memiliki aura keberanian dan harus mau mengambil resiko meskipun tidak rasional, dan saya rasa sifat kemaskulinitasan Ajo Kawir masuk ke kateogori tersebut.

Banyak sekali scene yang menampilkan adegan karakter sedang merokok, dari mulai Ajo Kawir hingga ibu dari Iteung. Tampilan rokok di film ini yang tak ada habisnya sangatlah menggambarkan tahun 80an, saya merasa asing ketika scene pernikahan Ajo Kawir dan Iteung, di mana rokok di acara tersebut disajikan di prasmanan. Dalam survey yang dibuat oleh The Minnesota Heart Survey yang berjudul Trends In Smoking Among Adults In 1980-2009, benar adanya bahwa kegiatan merokok pada tahun 80an sangatlah tinggi, pasnya lagi, kebanyakan orang yang merokok adalah orang yang mempunyai pendidikan rendah. Film ini juga sedikit membahas pemerintahan presiden Soeharto, yang mana saat itu beredar rumor bahwa hobi presiden Soeharto adalah memancing, namun selalu ada marinir di bawah kapal supaya ikan yang didapat jadi ikan yang besar besar.

film ini menawarkan sensasi yang segar, brutal, dan supranatural. Tidak banyak film Indonesia yang serius dengan tema berat yang dibawanya, tapi eksekusinya yang sangat baik dan sedikit bermain-main dengan komedi keringnya, tidak lupa dengan percakapannya yang sengaja dibuat dengan bahasa baku membuat film ini ‘aneh’ tapi dalam artian yang baik. Seluruh cast di film ini bekerja dengan sangat apik, terutama Ladya Cheryl dengan persilatannya mencuri mata saya di film ini. 


Saksikan film ini sekarang juga di bioskop, oh iya, film ini khusus 18 tahun ke atas ya!


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perang zab – runtuhnya dinasti umayyah

Opini

Peristiwa Nyata Sejarah yang Mengilhami Star Wars Part 1